"Ini pohon apa? Mirip sakura kalau dari jauh."
"Bukaan ...! Sakura kan di jepang, ini di Daejun, korsel tauk!"
"Iya pohon apa? Trus kenapa pengen ke sana?"
"Ga tau pohon apa, pengen aja!"
"Kalau ga bisa?"
"Pasti bisa!"
Kemudian kita sama-sama diam untuk beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kau mungkin sedang bermimpi tentang musim semi atau gugurnya, aku hanya memikirkan bagaimana bisa membuat taman seindah itu, agar kau tetap di sini.
Manja kau mendekat, duduk disampingku yang sedang menikmati hujan dengan secangkir puisi. Dan ... kau mulai memcah musik rintik di atap rumah kita, membelahnya dengan sebuah tanya "Mana yang lebih kau sayang? Aku? atau Puisi?"
Jeda sesaat, hujan mendadak turun dengan gerak lambat dan putus-putus.
"Puisi." Aku tersenyum, dan kau pergi meninggalkanku, tanpa pernah TAHU, bahwa puisiku adalah ... kamu.
***
Aku mendekatimu yang sedang menunggu kereta, aku TAHU, diam-diam kau membeli sebungkus puisi sebelum kau tiba di stasiun ini. Kekesalanmu memberiku kekuatan untuk mengubah diriku menjadi orang asing di mata yang kau punya. Duduk di sampingmu. Meletakkan sebungkus puisi yang kuracik sendiri, aku TAHU ini puisi kesukaanmu, bahkan sama persis dengan yang kau beli tadi.
Kau diam, ketika kubaca setengah bait pertama. Tatap matamu mengisyaratkan bahwa kau tak rela puisi ini terbagi. Lantas, kau menghabiskan setengahnya lagi. Kubaca setengah lagi, kau lanjutkan. begitu seterusnya. Hingga tersisa satu kalimat terakhir, aku memotongnya dua. Menyerahkan setengahnya padamu.
Aku TAHU, kau menggerutu. Hingga kereta tiba, dan kita kembali terpisah.
***
Seorang wanita menatap kosong di salah satu kursi penumpang kereta, matanya menghangat. Tangan mungilnya masih menimang-nimang sebungkus puisi utuh. "Bodoh, tadi ... bukan puisiku!"
Terlambat, kereta telah sangat jauh membawamu tersesat.
Seperti serabut emosi yang berpilin, saling mengikat rasa dengan kejutan listrik warna biru, aku gila. Gila mengamati mereka bolak-balik dalam neuron super kecil. Mengantarkan berjuta pesan untuk disampaikan. Dan dari berjuta pesan yang mereka bawa, ada sebungkus surat tentang hujan, tercecer menyentuh batang-batang glia. Sebuah prangko dengan gambar buku tebal, terpojok di sudut kanan surat. Meringkuk.
Ooh ... Tuhan, betapa sebuah kepedihan begitu cepat menjamur. Merayap dari sebuah amplop yang lancang kubuka. Sebagaimana sebab glia dan neuron tercipta, mereka menyampaikan pesan padaku, tentang kepedihan yang begitu limbung diterjemahkan oleh otak kecil. Anehnya, area lapisan abu-abu dengan milyaran neuron, mendadak berhenti. Memahami kepedihan saat sebuah kata terucap, berdesis di bibir yang mengucap sebuah nama.
Dan sepersekian detik, mereka kembali mengalirkan pulsa listrik seperti biasa. Hingga berhenti pada saraf kecil di dua buah mata, memaksanya berkaca-kaca.
Ini puisi? Bukan!
orang-orang cerdas, memelintir ketidaktahuan
menyembunyikan segelas kopi
hingga rasa telah tertidur dalam dengkur.
Hei ... dengkur tak COCOK, bodoh!
baiklah, aku menyoret setengah kalimatku.
kepada rasa
Bukan, ini puisi.
beberapa pasang bidadari timbul tenggelam dalam segelas kopi
butir-butir ampas hitam, lengket di selendang-tipis tubuh mereka
hingga terjaga menemaniku menulis tidurmu
kepada hujan
Ini bukan puisi.
Aku ingin kau turun, biar basah seluruh tanah
aku ingin kau berduyun, hingga bidadari tertidur
lelap dalam tumpukan uap kopi yang menebal seperti kabut
dan terbangun saat orang cerdas, membacakan bait puisi terakhirnya.
kepada otak hujan rasa
ada dua hemisfer utama yang membagi tidurmu dalam otak: Utara atau Selatan?
Nak, kelak jika engkau telah bisa membacakan Ayah sebuah dongeng, maukah kau membaca dari buku sebenarnya? Karena Ayah ingin mendengar suara gerisik ketika kau membuka halamannya. Karena Ayah ingin ujung telunjukkmu merasakan 'kasar' permukaan kertas, atau hidung kita mencium bau khas dari tinta huruf-hurufnya.
bu·ku n lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong
Tenang, Nak. Ayah telah membuatkanmu sebuah perpustakaan sederhana di rumah kita. Kau bisa sering-sering ke sana. Menyaksikan benda petak penuh lembar kata, tersusun berjejer-bertumpuk di rak-raknya. Bukan di dalam file PC, atau dokumen handphone.
Misalnya gini:
"Hey jono! Apakah kau mau bermain denganku? Telah lama kita tidak bermain bersama."
pas dilafalkan terasa kaku, rubah dengan: "Jono, bermainlah denganku, kita udah ratusan tahun nggak main bareng kan?"
Jadi penulis, jangan gampang puas dengan hasil apapun, termasuk dialog yang biasa. Gali terus kemampuanmu.
2. Berlatihlah menulis status yang 'enak dibaca'. Manfaatkan fesbuk, twitter, dll. Buatlah kalimat-kalimat apa saja, nggak harus nasihat atau memiliki makna tapi kalimat asalpun, beranikan tulis! Ini juga melatih kita jadi asik dalam membuat dialog.
3. Sering-sering baca buku, nonton film, dan cermati isi dialog didalamnya.
kemarin saya bikin cerpen, ada dialog kernet angkot yang terpaksa saya potong meskipun itu penting menunjukkan tempat tujuan si tokoh udah nyampe.
Aku terheran-heran dengan pertanyaannya. “Mmm..Apa?”
“Supaya kamu tidak usah terbang lagi ke surga dan meninggalkan aku, kalau perlu aku harus menipu seperti Jaka Tarub untuk bisa memperistrimu.”
(ARYABUAYA)
“Amaya, Aidan telah menunggumu selama dua tahun, dan terus menerus melamarmu tanpa henti sebelum dia kuijinkan menikahimu. Lelaki seperti Aidan, bukan tipe orang yang akan menghilang begitu saja tanpa jejak. Lelaki seperti Aidan, bukan tipe pria yang meninggalkan pengantinnya di malam bulan madu, apapun alasannya, apapun penyebabnya. Kau rela membiarkan dirimu kehilangan dia?
(PAKET BULAN MADU)
“Bukan berarti Ayla tidak suka Ibu di sini, Ayla hanya ingin Ibu berubah. Kita tidak bisa terus menerus lari dan sembunyi, sementara alam menuntut kita bangkit untuk memperbaiki kehancuran apapun yang pernah kita lakukan.”
(SATU TIKET UNTUK KEMBALI)
“Kau anak baik, Rayendra. Dan kau adalah penulis hebat.”
“Kalau bukan karena Tante, aku tidak mungkin berhasil menembus redaksi yang begitu ketat. Kita harus mengantri lama untuk bisa dibaca redaksi.”
“Kalau bukan karena kau penulis yang hebat, karyamu pasti ditolak meskipun aku yang mencoba menembus editornya.”
Rayendra tertawa lebar, tawa yang mengingatkan Diandra pada lelaki yang pernah begitu dicintainya. “Tante selalu bisa membalikkan kata-kata. Aku belum sehebat Tante, kan?”
“Tentu saja, jangan harap semudah itu melampauiku. Tapi ada saatnya nanti pemuda sepertimu menggantikan para sesepuh seperti aku. Ray, ini hanya awal, perjalananmu baru dimulai.”
(PANGERAN MIMPI)
Hidup tak selalu mudah, Agiska, meski kita berlimpah harta. Tempat ini adalah pelarian Mama dikala Mama membutuhkan ketenangan, dikala Mama bosan, dikala Mama bertengkar dengan Papamu, dikala mendung menggelayuti rumah tangga kami. Keluar dari sini, segalanya terasa jauh lebih baik. Mama merasa sedikit nakal dengan berselingkuh di belakang Papamu, membohonginya seolah Mama tak pernah melukis lagi,dan menyembunyikan lukisan dari Papa..Tapi entahlah, rasanya itu membuat Mama jauh lebih hidup.”
(MY SECRET GARDEN)
Nggak juga lho kak..Dialog bahkan bisa bertahan dari jaman ke jaman, karena itulah mengapa saya mencontohkan dialog yang nggak alay dan nggak menggunakan bahasa gaul. Karena dialog-dialog seperti itu, enak dilafalkan, mudah diserap dan dimengerti, dan tetap bertahan dari jaman ke jaman.